Layangan Jogja vs Bali

Standard

Saat ini, musim kemarau sedang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, meskipun ternyata masih banyak dijumpai beberapa hujan bahkan hingga banjir (akibat hujan) di beberapa dearah. emm…btw, saya nggak akan nulis tentang fenomena musim ini kok. Saya sedikit ingin berbagi pengalaman kepada para pembaca.

Saat musim kemarau biasayanya angin kencang dan cuaca cerah. Saat yang tepat bagi anak-anak, terkadang juga orang tua, untuk menyalurkan hobi bermain layang-layang. Di Jogja, tempat kelahiran saya, layang-layang (kite – Bahasa Inggris) umumnya berbentuk segi empat belah ketupat dan berukuran kecil. Layangan (Bahasa Jawa) ini biasanya terbuat dari kertas ketik (karena sering dipakai untuk media pengetikan manual pada masa lalu, red.), atau bahkan plastik bekas bungkus makanan kecil jika dalam keadaan terpaksa tidak punya uang. Tali yang dipakai untuk menerbangkan layang-layang berupa benang ukuran kecil (0.1 mm) yang terlebih dahulu dibalut (digelas) dengan ramuan yang terbuat dari lem (kanji) dan pecahan lembut kaca. Tujuannya agar benang ini tajam, mampu memutuskan benang layang-layang orang lain. Jadi antar layang-layang biasanya diadu, yang menang adalah yang tetap mampu terbang dan memutuskan layang-layang lawan. Layang-layang yang putus, akan menjadi bahan rebutan anak-anak lain yang menonton dengan berlomba mengejarnya.

Lain halnya di Bali. Layang-layang berbentuk beraneka ragam dengan ukuran yang bervariasi, mulai dari yang kecil hingga raksasa. Gambar pada layang-layang juga sangat bervariasi, ada yang berupa burung, ikan, tokoh masyarakat hingga karikatur isu terkini di media massa. Tali layang-layang biasanya dibuat dari senar dengan ukuran menyesuaikan besar layang-layangnya.

Layang-layang di Bali tidak untuk diadu seperti layang-layang di Jogja, tetapi diterbangkan untuk dinilai keindahan seninya. Karena ukurannya yang besar, menerbangkan layang-layang Bali tidak cukup seorang saja, melainkan sekempok anak muda yang memiliki tenaga masih prima. Dalam menerbangkan layang-layang, mereka mengiringinya dengan tabuhan gamelan khas Bali untuk memompa semangat tim.

Layang-layang raksasa dibawa ke lapangan perlombaan, biasaya dengan memakai truk atau sejenisnya. Hal ini sering kali membuat macet lalu-lintas. Jadi siap-siap jalur alternatif jika berlibur di Bali saat musim kemarau, musim layangan, musim orang liburan. Wassalam, -bmw-.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s