Lebaran 1430H

Standard

Lebaran tahun ini terasa beda bagi kami sekeluarga. Setelah 7 tahun merantau, untuk pertama kalinya kami berlebaran yang sebelumnya didahului dengan Puasa Ramadhan sebulan penuh di kampung halaman. Ada nuansa dan pemandangan baru. Jamaah Sholat Ied makin banyak, berbondong orang menunaikan sholat di tanah lapang yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah kami.

Sholat Iedul Fitr 1430

Masjid kami sekarang juga terlihat sangat indah, megah, bercat warna hijau mensyiratkan kesejukan dan kesegaran. Di sampingnya berdiri megah bangunan SD Muhammadiyah Mertosanan dua lantai. Kondisi ini belum lama kami nikmati setelah tiga tahun yang lalu, Mei 2006, diluluhlantakkan oleh gempa dahsyat yang mengguncang Bantul dan sekitarnya di Subuh pagi buta.

Masjid al-Ikhlash

Ya, masjid kami sudah indah, beribadah pun terasa lebih nyaman. Lantas apa yang selanjutnya harus dikerjakan?

Sesungguhnya tidaklah bermakna apa-apa sebuah bangunan masjid yang indah dan megah jika didalamnya tidak terdapat aktifitas ubudiyah yang semarak. Dikala Rasulullah masih hidup, bangunan masjid berdiri apa adanya. Pelepah kurma bahkan pernah menjadi atapnya sedangkan lantainya dibiarkan berupa pasir. Namun, sungguh masjid berfungsi sangat optimal sebagai wahana pembangunan masyarakat. Masjid menjadi pusat peradaban, keilmuan dan pemecahan segala permasalahan kehidupan.

Mampunkah masjid kami ini menjadi seperti maasjid ala Rasulullah?

Jawabannya masih butuh waktu panjang dan upaya keras untuk mewujuhkannya.

Makmurlah masjidku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s