Ngilangin “Triple-Search” dari Firefox

Standard

Hari sedikit dibuat kesel dengan kemunculan fitur baru di Mozilla Firefox-ku. Saat buka Tab baru selalu muncul search engine baru yaitu Triple-Search. Kadung udah pas dengan yang ditawarkan Google, fitur baru ini justru mengganggu kerjaku.

3s

Cari-cari cara untuk menghilangkannya, ternyata cukup ruwet juga.

Alhamdulillah ketemu cara berikut nih, ampuh:

Remove Delta Toolbar from Add-ons manager

  1. Open Mozilla Firefox.
  2. From the Firefox orange button (Or from the standard Tools menu), click Add-ons.
  3. In Add-ons manager left side menu bar, make sure Extensions is selected
  4. Disable or remove the Delta Toolbar add-on
  5. Restart the browser.

Remove Delta Toolbar from Windows programs

  1. Click the Start button and select Control Panel.
  2. Select Programs and Features.
  3. Select Delta Toolbar from the Programs list and right click to uninstall.
  4. Click YES on the popup message.

Remove Delta Search from default search engines

  1. Open Mozilla Firefox.
  2. Click inside the Search text field and press the F4 key
  3. Select Manage Search Engines from the drop down list
  4. Select Delta Search and click the Remove button.

Remove Delta Search home page

  1. Open Mozilla Firefox.
  2. From the Firefox orange button (or from the standard Tools menu), select Options.
  3. In the General tab, delete the Delta URL from the Home page text box.
  4. Click OK to save the changes.

Remove Delta Search home page from New Tab

If you open a new tab in Firefox, and delta Search home page is still there, please do the following:
  1. Type: about:config in the address bar and press enter
  2. Confirm the message.
  3. Type: browser.newtab.url in the Search text field
  4. Right click on the result and select Toggle (or Reset in older versions)

sumber: http://info.delta-search.com/uninstall/firefox

Ibumu, Ibumu, Ibumu

Standard

Itulah penggalan pesan Rasulullah SAW kepada anak manusia untuk berbakti kepada ibunya lebih dibandingkan kepada bapaknya.

Pesan ini sudah saya dengar sejak sekolah di SD, terutama dari guru Agama Islamku, Bu Dalil. Sekarang, pesan ini terasa begitu aktual terlebih ketika anakku yang ke tiga, Gaza Fatih Muhammad, hadir di tengah-tengah keluargaku. Saya perhatikan, setelah Gaza lahir, isteriku menjadi lebih banyak yang harus dikerjakan, mulai dari mengurus anak-anak, mengurus rumah, memasak dan pernak-pernik lainnya. Sesekali saya juga membantunya.

Sungguh al-Islam yang disampaikan oleh Rasululloh SAW menyimpan keindahan dan kemuliaan yang diberikan kepada manusia. Seorang ibu, dengan segala jerih payahnya memang pantas mendapatkan bakti yang lebih dari anak-anaknya. Di satu sisi, pesan tersebut juga dapat diaplikasikan oleh para suami untuk tidak segan-segan membantu meringankan beban kerjaan rumah tangga isteri. Sungguh peran isteri sebagai ‘manajer’ rumah tangga itu sangat mulia.
¬†Wallohu a’lam.

Amazing children

Standard

In this school holiday – June-July, my six and half (6.5) year daughter, named Haura, has proposed to make a small competition amongst her friends. It is sound a brilliant idea. The proposal was approved by her mam and supported by her dad. During the long holiday, my daughter spent almost all her daytime with her friends playing games or simulations.

On the 3rd July, my daughter woke up at 5.30 central Indonesia time (CIT). She was very enthusiastic and much easier woke up than normal day. After Subuh (dawn) praying, she took a shower though the water temperature was very cold. Then she dressed-up with a bit special dress. The clock showed the time 7.00 CIT but no one of her friends appeared. She was looking outside whether some of her friends ware coming.

At 7.30 almost all her friends were coming. Thereafter the game was starting. There were 5 kid games: cracker eat, marble run, stone and basket, pencil for bottle, and group run. For each, Ummi (Haura’s mother) prepared 3 prizes consist of books, pens, pencil sharpeners, rulers, pencil boxes, and erasers. All the prizes were divided into 5 groups corresponding to the games played. Each group has three different categories for the first, second, and third winner.

On the playground which was used the avenue, all Haura’s friends played the game sportively. When one was on the game, the others supported him by yelling his/her name loudly. The most interesting game was cracker eat. The crackers were hanging on plastic ropes adjustable to the height of participants. One tended to grab the cracker while they were eating. This caused vibration to the other crackers which improved difficulties for the others. Lomba makan kerupukSome participants have low talent to win the championship. They frequently apologized of what they cannot achieve. Nevertheless, there are also ambition participants. The most difficult game was throwing five stones to a small basket from the distance of 2 meters. No one succeeded the game. I have tested the game and concluded that it is not suitable for children under 10 years.

Kid world is very interesting. They are innocent, pure, no tendency, nor seeing another materialistically. God creates the human perfectly and most sophisticated. We can see this by observing the children world. Human themselves degrades their quality. Only limited people are able to preserve their quality. Educate children with love, justice, sympathy, empathy will grow them on the quality deserved by humankind.

 

Layangan Jogja vs Bali

Standard

Saat ini, musim kemarau sedang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, meskipun ternyata masih banyak dijumpai beberapa hujan bahkan hingga banjir (akibat hujan) di beberapa dearah. emm…btw, saya nggak akan nulis tentang fenomena musim ini kok. Saya sedikit ingin berbagi pengalaman kepada para pembaca.

Saat musim kemarau biasayanya angin kencang dan cuaca cerah. Saat yang tepat bagi anak-anak, terkadang juga orang tua, untuk menyalurkan hobi bermain layang-layang. Di Jogja, tempat kelahiran saya, layang-layang (kite – Bahasa Inggris) umumnya berbentuk segi empat belah ketupat dan berukuran kecil. Layangan (Bahasa Jawa) ini biasanya terbuat dari kertas ketik (karena sering dipakai untuk media pengetikan manual pada masa lalu, red.), atau bahkan plastik bekas bungkus makanan kecil jika dalam keadaan terpaksa tidak punya uang. Tali yang dipakai untuk menerbangkan layang-layang berupa benang ukuran kecil (0.1 mm) yang terlebih dahulu dibalut (digelas) dengan ramuan yang terbuat dari lem (kanji) dan pecahan lembut kaca. Tujuannya agar benang ini tajam, mampu memutuskan benang layang-layang orang lain. Jadi antar layang-layang biasanya diadu, yang menang adalah yang tetap mampu terbang dan memutuskan layang-layang lawan. Layang-layang yang putus, akan menjadi bahan rebutan anak-anak lain yang menonton dengan berlomba mengejarnya.

Lain halnya di Bali. Layang-layang berbentuk beraneka ragam dengan ukuran yang bervariasi, mulai dari yang kecil hingga raksasa. Gambar pada layang-layang juga sangat bervariasi, ada yang berupa burung, ikan, tokoh masyarakat hingga karikatur isu terkini di media massa. Tali layang-layang biasanya dibuat dari senar dengan ukuran menyesuaikan besar layang-layangnya.

Layang-layang di Bali tidak untuk diadu seperti layang-layang di Jogja, tetapi diterbangkan untuk dinilai keindahan seninya. Karena ukurannya yang besar, menerbangkan layang-layang Bali tidak cukup seorang saja, melainkan sekempok anak muda yang memiliki tenaga masih prima. Dalam menerbangkan layang-layang, mereka mengiringinya dengan tabuhan gamelan khas Bali untuk memompa semangat tim.

Layang-layang raksasa dibawa ke lapangan perlombaan, biasaya dengan memakai truk atau sejenisnya. Hal ini sering kali membuat macet lalu-lintas. Jadi siap-siap jalur alternatif jika berlibur di Bali saat musim kemarau, musim layangan, musim orang liburan. Wassalam, -bmw-.

Kembali ke Bali

Standard

Tahun 2002 hingga tahun 2006, lebih banyak waktu saya habiskan di Kota Denpasar – Bali. Dalam waktu tersebut saya bekerja pada sebuah Lembaga Suadaya Masyarakat (LSM) konservasi laut. Tahun 2007 – 2009 mendapatkan kesempatan untuk belajar di Negeri Kincir Angin bidang pengelolaan sumber daya alam (natural resources management), spesialisasi sumber daya pesisir dan lautan. Tahun 2009 berkesempatan banyak untuk berbakti kepada orang tua di Jogja dan akhirnya tahun 2010 ini ditaqdirkan oleh Alloh untuk kembali ke Bali menjalani kehidupan bersama keluarga dan berkarya untuk Negeri Tercinta Indonesia di bawah ‘kendaraan’ Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Perjalanan menuju Bali melalui darat dari arah Jogja selalu melewati Selat Bali dengan kapal penyebrangan fery, yang ditempuh selama 30 menit. Pada hari sibuk, hari libur dan lebaran, selat ini cukup dipadati oleh arus penyebrangan. Bagi yang belum pernah menyeberang, tentu akan menjadi pengalaman yang berkesan. Pulau Bali dari Ketapang, pelabuhan penyeberangan di Banyuwangi, terlihat jelas dengan pemandangan bukit menghijau ketika musim hujan.

Akhirnya, semoga keberadaan kami sekeluarga di Denpasar, Bali membawa banyak manfaat bagi orang lain dan keberkahan bagi kami.

Lebaran 1430H

Standard

Lebaran tahun ini terasa beda bagi kami sekeluarga. Setelah 7 tahun merantau, untuk pertama kalinya kami berlebaran yang sebelumnya didahului dengan Puasa Ramadhan sebulan penuh di kampung halaman. Ada nuansa dan pemandangan baru. Jamaah Sholat Ied makin banyak, berbondong orang menunaikan sholat di tanah lapang yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah kami.

Sholat Iedul Fitr 1430

Masjid kami sekarang juga terlihat sangat indah, megah, bercat warna hijau mensyiratkan kesejukan dan kesegaran. Di sampingnya berdiri megah bangunan SD Muhammadiyah Mertosanan dua lantai. Kondisi ini belum lama kami nikmati setelah tiga tahun yang lalu, Mei 2006, diluluhlantakkan oleh gempa dahsyat yang mengguncang Bantul dan sekitarnya di Subuh pagi buta.

Masjid al-Ikhlash

Ya, masjid kami sudah indah, beribadah pun terasa lebih nyaman. Lantas apa yang selanjutnya harus dikerjakan?

Sesungguhnya tidaklah bermakna apa-apa sebuah bangunan masjid yang indah dan megah jika didalamnya tidak terdapat aktifitas ubudiyah yang semarak. Dikala Rasulullah masih hidup, bangunan masjid berdiri apa adanya. Pelepah kurma bahkan pernah menjadi atapnya sedangkan lantainya dibiarkan berupa pasir. Namun, sungguh masjid berfungsi sangat optimal sebagai wahana pembangunan masyarakat. Masjid menjadi pusat peradaban, keilmuan dan pemecahan segala permasalahan kehidupan.

Mampunkah masjid kami ini menjadi seperti maasjid ala Rasulullah?

Jawabannya masih butuh waktu panjang dan upaya keras untuk mewujuhkannya.

Makmurlah masjidku.

Kebunku

Standard

Teringat sebuah lagu di jaman kanak-kanak dulu

Lihat kebunku penuh dengan bunga
Ada yang putih dan ada yang merah
Setiap hari kusiram semua
Mawar Melati semuanya indah…

Inilah sebagian aktivitasku mengisi waktu luang. Berkebun dengan menanam aneka sayur dan buah-buahan yang dapat tumbuh di halaman samping rumahku. Tomat, cabai, terong, kangkung, ketela pohon, bengkoang, kacang panjang, melon, semangka, markisa, rosela, klengkeng, jeruk, dan masih banyak lagi. Emm…ketika sudah mulai tumbuh, keluar dari dalam tanah, hati mulai senang. Kesenangan bertambah ketika mereka mulai berbunga dan berbuah. Terbetik sebuah perasaan mendalam di hati, sungguh Alloh Maha Kuasa menumbuhkan tanaman dari biji-bijian di muka Bumi. Allohu akbar!

Ide mananami lahan kosong di samping rumah berawal ketika saat menempati rumah, terasa pandangan ke pekarangan kosong, hanya tanah kering. Alangkah indah jika lahan ini berwarna-warni dengan aneka warna tanaman sayur dan buah-buahan. Mata akan senang melihatnya, hati akan teduh merasakannya. Hijau ranau diselingi kuning, merah, seburat warna-warna bunga dan buah-buahan.

Haura, putriku pun ikutan senang dengan tanaman. Setiap makan buah yang berbiji, dia selalu meminta abi dan uminya untuk menanam biji-biji itu. Semoga ini juga salah satu upaya pendidikan cinta lingkungan baginya yang bermanfaat di masa depannya.

Ya Alloh, Engkau tumbuhkan tanaman dari biji-bijian di muka Bumi sebagai rizki bagi ummat manusia. Segala Puji hanya pantas dihaturkan kepadaMu.

Robbanaa maa kholaqta haadzaa baathilan
Subhaanaka wa qinaa ‘adza bannaar.